Jumat, 12 April 2013

PROGRAM EVALUASI


PROGRAM  EVALUASI
1.      Arti Perlunya Program Evaluasi
yang dimaksud dengan “program evauasi” a1ah suatu program yang berisi ketentuan dan cra-cara tentang penyelenggaraan atau pelaksanaan evaluasi pendidikan di suatu sekolah dan merupakan pegangan atau pedoman bagi guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut.
Kenyataan menunjukkan bahwa sekolah-sekolah kita pada umumnya tidak memiliki program penilaian yang baik dan rinci seperti yang diharapkan. Hampir setiap sekolah, dan bahkan setiap guru, menjalankan praktek-praktek evaluasi terhadap muridnya dengin cara dan pendapat masing-masing sehingga tidak mustahil penilaian itu sering kali tidak tepat, kurang objektif, dan tidak melukiskan gambaran yang sebenarnya tentang hasil proses belajar para siswa.
Di sekolah-sekolah kita sekarang ini, pekerjaan evaluasi seluruh kemajuan belajar setiap siswa sebagai hasih pendidikan di sekolah dilakukan bersama-sama oleh guru-guru yang mengajar di sekolah itu. Sistem kerja sama seperti ini memang baik jika:
a.       Setiap guru menyadari dan memahami tujuan bersama yang hendak dicapai
dengan seluruh kegiatan evaluasi yang dilakukan di sekolah itu, yakni mengevaluasi pertumbuhan dan perkembangan siswa dalam proses kegiatan belajar, untuk mencapai tujuan seperti tercantum di dalam kurikulum sekolah.
b.      Setiap guru mengetahui apa dan bagaimana melakukan evaluasi untuk mencapai tujuan bersama seperti tercantum di dalam kurikulum itu. Dengan kata lain, setiap guru memiliki kecakapan dan keterampilan yang diperlukan dalam melaksanakan kegiatan evaluasi.
Untuk memenuhi kedua syarat tersebut, setiap sekolah perlu menyusun suatu program yang dapat dijadikan pegangan atau pedoman bagi guru-guru dalam mempersiapkan dan melaksanakan evaluasi hasil pendidikan dan pengajaran yang telah diberikan kepada murid-muridnya.

2.      Beberapa Hal yang Perlu Mendapat Perhatian dalam Penyusunan Program Evaluasi
1.      Pimpinan sekolah dan guru-guru benar-benar menyadari kekurangan serta kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam menyelenggarakan evaluasi yang pernah dilakukan selama mi. Dengan mengetahui dan meneliti kekurangan dan kelemahan tersebut, selanjutnya mereka akan berusaha bagaimana memperbaikinya.
2.      Penyusunan program evaluasi hendaklah dilakukan bersama oleh pimpinan sekolah dan guru-guru di sekolah itu. Dengan demikian, adanya program evaluasi itu tidak menimbulkan perasaan pada guru bahwa kebebasan dan inisiatifnya dikekang atau dihambat karenanya. Sebaliknya, karena program evaluasi itu direncanakan dan disusun bersama, akan dapat lebih lancar dalam pelaksanaannya.
3.      Kepemimpinan kepala sekolah sebagai administrator dan supervisor sangat diharapkan seperti dalam hal:
a.       mengusahakan adanya inservice-training atau upgrading kepada guru-guru tentang evaluasi.
b.      mengusahakan atau memperlengkap sarana pendidikan yang diperlukan seperti buku-buku perpustakaan yang berhubungan dengan masalah evaluasi.
c.       Menyediakan kesempatan untuk mengadakan pertemuan atau diskusi-diskusi antar guru secara periodik dan berkesinambungan. Semua itu dimaksudkan kecuali untuk meningkatkan pengetahuan dan kecakapan guru-guru, juga untuk membina keseragaman dan persesuaian pendapat serta kesatuan arah tujuan dalam menyusun dan melaksanakan program penilaian.
4.      Bahwa program evaluasi di suatu sekolah mungkin tidak sama dengan sekolah yang lain, itu wajar karena hal ini akan bergantung pada:
a.       tingkat dan jenis sekolah masing-masing
b.      kualitas serta kapasitas guru-guru pada setiap sekolah yang tidak sama
c.       perlengkapan serta biaya yang tersedia untuk setiap.sekolah. Namun demikian, akan lebih baik kiranya, jika sekolah-sekolah yang sejenis mempunyai program evaluasi yang sama, karena kurikulum dan tujuan sekolah itu sama pula.
5.      Jika di sekolah yang bersangkutan telah ada lembaga atau badan bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling) yang baik dan lengkap, usaha penyusunan program evaluasi haruslah dilakukan bersama antara guru-guru dan para konselor BP. Hal mi akan memungkinkan hash yang lebih baik karena tugas BP sebagian besar menyangkut masalah evaluasi yang dilakukan guru-guru di sekolah itu seperti menyusun dan melaksanakan tes-tes, membuat blangko-blangko atau format evaluasi, membuat pedoman tentang cara-cara menilai (scoring system) dan mengolah score hasil tes.
3.      Ciri-ciri Program Evaluasi yang Baik
Satu program evaluasi yang baik dapat diketahui dan ciri-cirinya yang ter: tu. Beberapa yang dapat dianggap sebagai ciri pokok untuk menilai sampai rriana suatu program evaluasi di suatu sekolah dikatakan baik, antara lain:
1.      Desain atau rancangan program evaluasi itu komprehensif
Tujuan-tujuan umum yang akan dinilai hendaknya mencakup tidak hanya konsep, keterampilan, dan pengetahuan, tetapi juga apresiasi, sikap, minat, pemikiran kritis, dan penyesuaian diri yang bersifat personal dan sosial.
Suatu desain evaluasi dikatakan komprehensif jika ia mencakup nilai-nilaian dan tujuan-tujuan pokok yang akan dicapai oleh sekolah itu bagi setiap individu murid. Guru-guru harus melaksanakan tugasnya sebagai pembimbing pertumbuhan dan perkembangan anak tidak hanya dalam hal pengetahuan-pengetahuan akademis, tetapi juga dalam hal-hal yang menyangkut pertumbuhan kepribadian siswa seperti minat, sikap, apresiasi, dan penyesuaiannya secara emosional dan sosial. Dengan kata lain, guru sebagai pendidik hendak nya memfokuskan tugasnya terhadap anak didik sebagai keseluruhan pribadi:
intelektual, mental, emosional, dan sosial.
Tentu saja, untuk menilai aspek-aspek yang bersift komprehensif dan suatu individu tidaklah mudah. Untuk itu diperlukan bermacam-macam alat evaluasi yang sesuai bagi setiap aspek yang akan dinilai disertai kemampuan dan kecakapan guru dalam melaksanakan alat evaluasi itu.
2.      Perubahan-perubahan tingkah laku individu harus mendasari penilaian perumbuhan dan perkembangannya
Tingkah laku total dan suatu individu-intelektual, fisik, emosional, dan sosial harus menjadi perhatian guru dan supervisor di dalam setiap situasi belajar. Jika siswa belajar berhitung, atau IPA, atau sejarah, atau pelajaran apa saja, dia pada saat itu juga belajar mengubah sikap, mengembangkan minat, dan membuat penyesuaian secara emosional maupun sosial. Jika ia merasa kecewa karena tugas-tugas yang terlalu sukar, atau jika ia bosan terhadap tugas-tugas yang terlalu mudah, maka sikapnya serta penyesuaian emosional dan sosial nya akan tampak menolak atau membenci, dan selanjutnya mempengaruhi si A uasi belajarnya.
Olehk arena itu, guru harus tetap menyadari bermacam-macam aspek dan tingkah laku murid meskipun tujuan pokok dan pengalaman belajar itu mungkin untuk menguasai dalil-dalil yang diperlukan dalam pemecahan soal kimia, misalnya. Tiap-tiap situasi belajar mencakup multiple learning yang menyangkut tidak hanya konsep-konsep intelektual dan skills, tetapi juga penyesuaian fisik, emosional, dan sosial. Oleh sebab itu, tingkah laku total dan seorang siswa dalam tingkat tertentu dipengaruhi oleh pengalaman belajarnya.
Jika suatu kurikulum direncanakan untuk mencapai tujuan-tujuan yang luas, ini berarti pula bahwa tingkah laku siswa harus dievaluasi menurut tujuan dan nilai-nilai yang luas pula seperti yang dimaksud dalam kurikulum tersebut.
3.      Hasil-hasil evaluasi harus disusun dan dikelompok-kelOmPokkafl sedemik lan rupa sehingga metnudahkan interpretasi yang berarti
Hasil-hasil kuantitatif dan kualitatif yang diperoleh dan program evaluasi harus disimpulkan ke dalam pola penskoran yang jelas, secara statistik, grafik, ataupun secara verbal, sehingga dan data evaluasi itu gambaran atau lukisan individu dapat dilihat dan dipahami dengan mudah, dan dapat dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Dengan demikian, dapat dilihat bagaimana atau ke mana arah perkembangan individu tersebut.
Di dalam interpretasi ini hendaknya dilihat pula bagaimana hubungan antara skor-skor yang diperoleh siswa dalam tes-tes, dengan catatan-catatan kualitatif yang dibuat guru (anecdotal records) tentang anak tersebut, sehingga dengan demikian pertumbuhan dan perkembangan total siswa tersebut dapat di imbing sebaik-baiknya.
Hal mi berarti pula bahwa data tentang kesehatan fisik, penyesuaian emosional dan sosial, minat-minatnya, sikapnya, dan hasil-hasil achievement test dan berbagai mata pelajaran tidak dipisahkan satu sama lain, tetapi harus dikorelasikan dan diintegrasikan ke dalam deksripsi yang merupakan kesatuan atau kebulatan dan individu
4.      Program evaluasi haruslah berkesinambungan dan saling berkaiwn (interr elated) dengan kurikulum
Di sekolah-sekolah modern, evaluasi dipandang sebagai suatu proses yang berkesinambungan, dilakukan terus-menerus. Observasi, penilaian, dan tes-tes yang di1akukan dari hari kehari hendaknya direncanakan secara teratur sehingga guru dapat benar-benar mengevaluasi dan membimbing pertumbuhan siswa seacara positif. Konsep ini berbeda dengan konsep tradisional yang memandang atau menganggap tes itu sebagai hasil akhir, dan bukan sebagai suatu alat unk membimbing pertumbuhan.
Suatu program evaluasi haruslah erat berkaitan (interrelated) dengan kurikulum sekolah karena Ia merupakan bagian yang integral dengan pembimbingan pengalaman-pengalaman belajar siswa. Tes, kuesioner, dan alat-alat evaluasi yang lain bersama-sama merupakan dasar untuk menilai pertumbuhan ke arah tujuan-tujuan kurikulum. Dengan kata lain, tercapai-tidaknya tujuan-tujuan trikulum itu tercermin di dalam hasil-hasil penilaian terhadap pencapaian belajar perubahan-perubahan tingkah laku pada muri-murid. Dengan demikian, program evaluasi menjadi berarti tidak hanya untuk membimbug pertumbuhan siswa, tetapi juga bagi pembinaan dan perkembangan kunikulum serta metode-metode mengajar yang sesuai.
4.      Isi Program Evaluasi
Menentukan pokok-Pokok dan ketentuan-ketentuan apa yang perlu dimuat di dalam suatu program evaluasi itu sangat sukar. Hal ini disebabkan oleh tujuan khusus dan tiap jenis sekolah dan keadaan sekolah masing-masing tidak sama.
Namun, untuk memberi gambaran secara umum, beberapa pokok dan ketentuan yang dikemukakan di bawah ini dapat menjadi petuniuk minimal dalam penyusunan suatu program evaluasi.
1.      Adanya perumusan tujuan umum sekolah yang bersangkutan seperti yang tercantum di dalam kurikulumm sekolah masing-masing
2.      Perumusan tujuan tiap mata pelajaran sesuai dengan tujuan sekolah masing-masing. Kedua perumusan tujuan tersebut di atas kalau diintegrasikan hendaknya melukiskan gambaran yang cukup jelas mengenal hasil anak didik yang bagaimanakah yang dihendaki oleh tujuan sekolah itu.
3.      Perumusan tujuan tiap mata pelajaran menjadi tujuam-tujuan instruksional yang jelas dan sesuai dengan aspek-aspek pertumbuhan siswa yang dihendaki oleh tujuan kurikulum sekolah itu.
4.      Rincian tentang aspek-aspek pertumbuhan siswa yang harus diperhatikan dalarn setiap kegiatan evaluasi seperti sikap, watak, kecakapan, pengetahuan, keterampilan, cara berpikir, kepemimpinan, serta cara penyesuain dan secara emosional dan sosial.
5.      Ketentuan tentang pemilihan alat-alat evaluasi yang sesuai dan dapat dipergunakan untuk mengevaluasi setiap aspek pertumbuhan yang dihendaki. Misalnya observasi, catatan harian (anecdotal records), beberapa jenis tes kepribadian, dan achievement test.
6.      Ketentuan dan petunjuk-petunjuk tentang cara-cara menskor (scoring system) dan cara mengolahnya.
7.      Ketentuan dan petunjuk-petunjuk tentang syarat-syarat kerja yang harus diperhatikan dalam setiap tindakan evaluasi bagaimanakah melaksanakya dan alat-alat apa yang harus dipersiapkan
8.      Ketentuan tentang jadwal kegiatan evaluasi, yang memuat antara lain: bilamana evaluasi harus dilakukan, berapa kali dalam tiap semester, aspek-aspek mana yang perlu dievaluasi, dan alat evaluasi yang dipergunakan.

PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI DAN CIRI EVALUASI PENDIDIKAN

PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI DAN CIRI EVALUASI PENDIDIKAN

MAKALAH
Di susun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Evaluasi Pendidikan
Dosen Pengampu : Akhmad Afroni, M. Pd
Di susun oleh :
Nurul Khikmah NIM. 232 108 166
Khusnul Khotimah NIM. 232 108 168
Kelas D
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAM ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN 2011


PENDAHULUAN
Evaluasi dalam pendidikan merupakan salah satu kunci bagi seorang guru untuk dapat mengetahui tingkat kesuksesan dalam mentrasnferkan ilmunya kepada siswa. Dengan adanya evaluasi, akan dapat diketahui kebaikan serta kelemahan pembelajaran yang dilaksanakan. Untuk kemudian dapat ditingkatkan agar lebih memberikan keunggulan dalam melaksanakan pembelajaran bagi siswa.
Sebelum kita mengetahui lebih jauh tentang evaluasi dalam pendidikan, ada beberapa hal yang menjadi pokok masalah yang harus kita pecahkan dalam hal ini yaitu:
a. apa definisi dari evaluasi, dan apa kaitan antara pengukuran, penilaian dan evaluasi?
b. Apa tujuan dan fungsi dari penilaian?
c. Apa saja ciri penilaian pendidikan ?
Dalam makalah ini akan membahas pokok masalah diatas, untuk sedikit mengantarkan kita mengetahui pengertian evaluasi, tujuan serta ciri dari penilaian dalam pendidikan.

PEMBAHASAN
PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI DAN CIRI EVALUASI PENDIDIKAN
A. Pengertian Evaluasi
1. Definisi Evaluasi
Menurut Bloom et. Al (1971) : Evaluasi sebagaimana kita lihat, adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam diri siswa.
Menurut Stufflebeam et.al (1971) : Evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternative keputusan.
2. Pengertian Evaluasi
Selain istilah evaluasi seperti yang tercantum diatas, kita dapati pula istilah pengukuran dan penilaian. Coba perhatikan contoh-contoh berikut :
a. Apabila ada orang yang akan memberi sebatang tongkat kepada kita, dan kita disuruh memilih antara dua tongkat yang tidak sama panjangnya, maka tentu saja kita akan memilih yang “panjang”. Kita tidak akan memilih yang “pendek” kecuali ada alasan yang sangat khusus.
b. Pasar, merupakan suatu tempat bertemunya orang-orang yang akan menjual dan membeli. Sebelum menentukan barang yang akan dibelinya, seorang pembeli akan memilih dahulu mana barang yang lebih “baik” menurut ukurannya. Semuanya itu dipertimbangkan karena menurut pengalaman sebelumnya.
Dari contoh-contoh diatas ini dapat kita simpulkan bahwa sebelum menentukan pilihan, kita mengadakan penilaian terhadap benda-benda yang akan kita pilih. dari langkah kegiatan yang dilalui sebelum mengambil barang untuk kita, itualh yang disebut mengadakan evaluasi, yakni mengukur dan menilai. Kita dapat mengadakan penilaian sebelum kita mengadakan pengukuran.
Didalam istilah asingnya, pengukuran adalah measurement, sedang penilaian adalah evaluation. Dari kata evaluation inilah diperoleh kata Indonesia evaluasi yang berarti menilai.
3. Pengertian Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi
Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif.
Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk, penilain bersifat kualitatif
Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah diatas, yakni mengukur dan menilai.
4. Penilaian Pendidikan
Pada awalnya, pengertian evaluasi pendidikan selalu dikaitkan dengan prestasi belajat siswa. Definisi yang pertama dikembangkan oleh Ralph Tyler (1950). Ahli ini mengatakan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai. Jika belum, bagaimana yang belum dan apa sebabnya. Definisi yang lebih luas dikemukakan oleh dua orang ahli lain, yakni Cronbach dan stufflebeam. Tambahan definisi tersebut adalah bahwa proses evaluasi bukan sekadar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk membuat keputusan.
Guru patut dibekali dengan evaluasi sebagai ilmu yang mendukung tugasnya, yakni mengevaluasi hasil belajar siswa. Dalam hal ini guru bertugas mengukur apakah siswa sudah menguasai ilmu yang dipelajari oleh siswa atas bimbingan guru sesuai dengan tujuan yang dirumuskan.
Pembelajaran bukanlah satu-satunya factor yang menentukan prestasi belajar, karena prestasi merupakan hasil kerja yang keadaannya sangat kompleks.
Apabila sekolah diumpamakan sebagai tempat mengolah sesuatu dan calon siswa diumpamakan sebagai bahan mentah maka lulusan dari sekolah itu dapat disamakan dengan hasil olahan yang sudah siap digunakan. Dalam istilah inivasi yang menggunakan teknologi maka tempat pengolahan ini disebut transformasi.
- Input, adalah bahan mentah yang dimasukkan ke dalam transformasi. Dalam dunia sekolah maka dimaksud dengan bahan mentah adalah calon siswa yang baru akan memasuki sekolah.
- Output, adalah bahan jadi yang dihasilkan oleh transformasi. Yang dimaksud adalah siswa lulusan sekolah yang bersangkutan. Untuk dapat menentukan apakah seorang siswa berhak lulus atau tidak, perlu diadakan kegiatan penilain, sebagai alat penyaring kualitas.
- Transformasi, adalah mesin yang bertugas mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi. Dalam dunia sekolah, sekolah itulah yang dimaksud dengan transformasi. Bahan jadi yang diharapkan, yang dalam hal ini siswa lulusan sekolah ditentukan oleh beberapa factor sebagai akibat bekerjanya unusr-unsur yang ada yaitu sebagai berikut :
a. Siswa sendiri
b. Guru dan personal lainnya
c. Bahan pelajaran
d. Metode mengajar dan system evaluasi
e. Sarana penunjang
f. System administrasi
- Umpan balik, adalah segala informasi baik yang menyangkut output maupun transformasi. Umpan balik ini diperlukan sekali untuk memperbaiki input maupun transformasi.
B. Tujuan dan Fungsi Penilaian
Fungsi penilaian ada beberapa hal :
1. Selektif
Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya. Penilaian itu sendiri mempunyai berbagai tujuan antara lain :
a. Untuk memilih siswa yang dapat diterima disekolah tertentu
b. Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.
c. Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa
d. Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dsb.
2. Diagnostik
Apabila alat yang digunakan dalam penelitian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Disamping itu, diketahui pula sebab musabab kelemahan itu. Dengan mengadakan penilaian, guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya, sehingga akan lebih mudah dicari cara untuk mengatasinya.
3. Penempatan
Untuk menentukan dengan pasti seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu penilaian. Sekelompok siswa yang mempunyai niali yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.
4. Pengukur Keberhasilan
Dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan, keberhasilan program ditentukan oleh beberapa factor yaitu factor guru, metode mengajar, sarana dan system administrasi.
C. Ciri Penilaian Pendidikan
Ciri-ciri penilaian dalam pendidikan , antara lain adalah sebagai berikut :
1) Penilaian dilakukan secara tidak langsung
2) Penggunaan ukuran kuantitatif; artinya menggunakan symbol bilangan sebagai hasil pertama pengukuran. Setelah itu diinterpretasikan ke bentuk kualitatif.
3) Penilaian pendidikan menggunakan, unit-unit atau satuan-satuan yang tetap.
4) Bersifat relative; artinya tidak sama atau tidak selalu tetap dari satu waktu ke waktu yang lain.
5) Dalam penilaian pendidikan itu sering terjadi kesalahan-kesalahan. Adapun sumber kesalahan dapat ditinjau dari berbagai factor, yaitu :
a. Terletak pada ukurannya
Alat yang digunakan untuk mengukur haruslah baik.
b. Terletak pada orang yang melakukan penilaian
Hal ini berupa :
- Kesalahan pada waktu melakukan penilaian karena factor subjektif penilai telah berpengaruh pada hasil pengukuran.
- Kecenderungan dari penilai untuk memberikan nilai secara “murah atau “mahal”.
- Adanya hallo-effect, yakni adanya kesan penilai terhadap siswa.
- Adanya pengaruh hasil yang diperoleh terdahulu
- Kesalahan yang disebabkan oleh kekeliruan menjumlah angka-angka hasil penilaian.
c. Terletak pada anak yang dinilai
- Suasana hati akan sangat brpengaruh terhadap hasil penilaian
- Keadaan fisik ketika siswa sedang dinilai
d. Terletak pada situasi di mana penilaian berlangsung
- Suasana gaduh, didalam maupun diluar ruangan dapat mengganggu konsentrasi siswa, demikian pula tingkah laku kawan-kawan disekelilingnya akan mempengaruhi diri siswa dalam mengerjakan soal.
- Pengawasan penilaian.

PENUTUP
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh , dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternative keputusan.
Mengadakan evaluasi meliputi dua langkah yaitu mengukur (kuantitatif) dan menilai (kualitatif).
Tujuan atau fungsi penilaian ada beberapa hal :
1. Selektif, dengan mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadap siswanya
2. Diagnostic, dengan mengadakan penilaian, guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya.
3. Penempatan, untuk dapat menentukan dimana seorang siswa ditempatkan, digunakan suatu penilaian
4. Pengukur Keberhasilan, untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan.
Ciri dari penilaian pendidikan adalah :
- Dilakukan secara tidak langsung
- Penggunaan ukuran kuantitatif
- Menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap
- Penilaian pendidikan itu sering terjadi kesalahan-kesalahan


Kamis, 07 Maret 2013

Ma'rifat Kepada Allah

Ma'rifat Kepada Allah.
Ma'rifat kepada Allah atau mengenal Allah tentang dzat dan sifat-sifat-Nya adalah menjadi kewajiban tiap mslimin dan muslimat dimana pun mereka berada.
Sebab dengan ma'rifat kepada Allah itu akan bersemilah iman yang ada dalam dada sedangkan iman kepada Allah itu menjadi sendi keyakinan dan kepercayaan yang terpokok dalam Islam. Karenanya sungguh beruntung orang yang beriman kepada Allah itu.
Bilamana seseorang telah tertanam dalam dadanya iman kepada Allah, meyakinkan tentang adanya Allah, meyakinkan bahwa Allah dzat Yang Maha sempurna dalam segala-galanya dan dijauhkan dari segala sifat kekurangan, niscaya akan bersemi pula beriman kepada alam gaib yakni malaikat, jin, ruh dan sebagainya.
Dan iman kepada Allah itu akan menumbuhkan pula iman kepada kitab-kitab Allah yakni kitab suci yang diturunkan kepada para Rasul. Dan tumbuh pula kepercayaan dan iman kepada para Rasul sebagai utusan Allah.
Yang demikian akan menumbuhkan pula iman kepada adanya alam akhirat, hari kebangkitan manusia di alam akhirat atau hari Ba'ats, iman pula akan adanya hisap atau perhitungan amal manusia, pahala, siksa, surga dan neraka. Dan akan beriman pula tentang adanya takdir Tuhan SWT. Begitulah buahnya ma'rifat kepada Allah yang betul-betul bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia di dunia ini, sebagai hamba Allah
Awwalu waajibin 'alal insaanii- Ma'rifatul ilaahi bistiqaanii.
Yang artinya:
Permulaan yang wajib bagi manusia- Mengenal Tuhan (Allah) dengan penuh keyakinan.”
Jalannya ma'rifat kepada Allah itu ada dua:
1. Dengan jalan menggunakan akal untuk memikir-mikir keindahah ciptaan Allah.
2. Dengan jalan mengenal nama Allah dan sifat-sifat-Nya.
Kedua jalan itu harus kita tempuh kedua-duanya agar iman yang ada dalam dada bertambah kuat dan tebal, menghujam dalam kalbu.
1. MA'RIFAT DENGAN JALAN MENGGUNAKAN AKAL.
Anugerah Allah yang diberikan kepada manusia yang tak ternilai harganya ialah berupa akal. Dengan akal fikiran manusia dapat mencapai kemajuan sehingga dewasa ini manusia dengan akal dapat menginjakkan kakinya ke bulan, dapat melayang-layang di udara berjam-jam lamanya. Itulah kaluau akal fikiran manusia digunakan dengan sebaik-baiknya.
Dengan menggunakan akal itu pula manusia dapat mencapai kesempurnaan hidup melabihi dari makhluk-makhluk yang lain. Dapat mendirikan gedung yang indah, mendirikan pabrik yang beraneka ragam, mendapatkan hasil tanaman dan lain sebagainya yang bermanfaat bagi hidup, yang semuanya itu tercapai berkat dari ketekunan manusia menggunakan akalnya.
Maka dalam ma'rifat kepada Allah perlu pula manusia menggunakan akal, ialah dengan jalan memikir-mikir keindahan ciptaan allah.
Bagaimana Allah menciptakan matahari benda raksasa yang membara dapat bergerak di angkasa. Memikir-mikir terjadinya binatang yang beraneka warna, ada yang buas seperti harimau ada yang bergading dan berbelalai panjang ialah gajah, memikir-mikir pula tentang keadaan ikan yang bermacam-macam bentuk dan warnanya, indah sekali, semuanya itu bukan manusia yang menciptakan dan membuatnya melainkan Allah SWT.
AYAT-AYAT DAN HADIS NABI YANG MEMRINTAHKAN MANUSIA MENGGUNAKAN AKALNYA.
Banyak ayat-ayat al Qur'an dan Hadits Nabi SAW yang memerintahkan agar manusia menggunakan akalnya. Memikir-mikir tentang hal keduniaan dan keakhiratan. Diantaranya ialah ayat:
Yang artinya: Yang demikian itu Allah menerangkan ayat-ayatnya agar kamu memikir-mikir, hal keadaan dunia dan akhirat.” (Al Baqarah: 219-220).
Di ayat lain disebutkan pula:
Artinya: “Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi, karena tidak berguna tanda-tanda kekuasaan Allah dan peringatan-peringatan bagi kaum yang tidak beriman.” (Yunus: 101).
Disebutkan pula:
Artinya: “Perhatikanlah buahnya ketika pohon itu berbuah. Dan sesungguhnya di dalam yang demikian itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman.” (al an'aam: 99).
Yang dimaksud perhatikanlah dalam ayat di atas ialah fikirkanlah.
Adapun maksud ayat tersebut: Cobalah perhatikan dengan hati yang jernih, bagaimana sebuah pohon dapat berbuah, semua buah itu kecil dan akhirnya besar dan masak. Keadaan buah itu brbeda rasanya dan warnanya ketika masuh kecil dan ketika telah masak. Bukan manusia yang membuatnya demikian, melainkan allah pencipta semesta alam. Yang demikian menjadi bukti kekuasaan Allah SWT Yang Tak Terbatas.
Cobalah perhatikan bumi, bulan bintang dan matahari berjalan dengan :nidham” peraturan alam dengan tata tertib yang rapi, semuanya berjalan dan beredar di tempatnya sendiri-sendir dengan aman. Tidak berbenturan satu dengan yang lain, sehingga terjadi pergantian siang dan malam yang teratur, yang demikian menjadu bukti yang menunjukkan adanya kekuatan ghaib di luar yang ada ini maha dasyat, yang menggerakkan alam ini dengan teratur dan berhikmat, termasuk bumi dan manusia yang mendiaminya, terapung-apung di angkasa nan luas dengan aman.
Sedangkan kekuatan Ghaib yang maha dahsyat yang menggerakkan alam ini menurut ajaran Islam ialah datangnya dari allah Yang Maha Agung Yang Maha Sempurna dalam segala-galanyanya serba berhikmat itu.
Jadi Allahlah yang menciptakan dunia dengan segala isinya ini, sebab Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Sempurna, Maha Bijak Sana, Maha Perkasa, yang menciptakan dunia sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya.
Kalau sekiranya perjalanan alam yang seba teratur atas kehendak manusia, tentulah tidak sehebat itu. Sebab manusia adalah makhluk yang lemah. Terbukti kendaraan yang dikemudikan menurut kehendak manusia bisa rusak berantakan. Kita dengar disana-sini ada juga kadang-kadang kapal udara jatuh, kapal karam di tengah laut, mobil bertabrakan dengan mobil atau dengan sepeda motor dan sebagainya. Semuanya itu menunjukkan kekurangan dan kelemahan mnusia.
Padahal kenyataannya keadaan alam serba teratur, tidak tabrakan satu dengan yang lain. Bumi, bulan, bintang berjalan ditempatnya masing-masing tentu Allahlah yang mengaturnya. Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa adanya ini menunjukkan adanya Allh, Tuhan semesta alam.
Disebutkan dalam Al Qur'an:
Yang artinya: “Katakanlah: siapakah Tuhan langit dan bumi, jawablah: Allah. Katakanlah: apakah kamu menjadikan pelindung-pelindung selain Allah sedangkan mereka tidak menguasai kemanfaatan dan kemadlaratan terhadap diri mereka sendiri. Katakanlah apakah sama orang buta dan orang yang dapat melihat apakah sama gelap dengan terang. Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah dapat menciptakan seperti ciptaan seperti ciptaan-Nya. Sehingga kedua ciptaan itu serupa bagi mereka. Katakanlah Allahlah yang menciptakan segala sesuatu, dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (ar Ra'd: 16).
Disebutkan di lain ayat:
Yang artinya: “Sesungguhnya didalam terjadinya langit dan bumi dan pergantian malam dan siang sungguh menjadi bukti kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Ialah orang-orang yang ingat kepada allah di waktu berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka memikir-mikir tentang terjadinya langit dan bumi, kemudian mereka berkata wahai Tuhan kami engkau tidak menjadikan ini hampa sis-sia, Maha Suci Engkau maka jagalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imraan: 190-191).
Adapun Hadits yang memerintahkan agar kita manusia menggunakan akalnya di antaranya ialah sabda Rasulullah SAW:
Yang artinya: “Berfikirlah kamu tentang segala sesuatu dan janganlah kamu berfikir tentang dzat Allah.” (H.R. Abusy Syaikh dari Ibnu abbas).
LAPANGAN PEMIKIRAN.
Akal manusia itu terbatas. Oleh karena itu lapangan pemikiran ada batasnya. Manusia tidak dapat memikirkan sesuatu diluar batas kemampuannya, terutama hal-hal yang gaib, misalnya memikirkan hakekat wujud roh manusia, kapan datangnya hari kiamat, malaikat, jin, dzat Allah dan sebagainya. Sebab ilmu manusia ada batasnya.
Dalam Al Qur'an disebutkan:
Yang artinya: “Dan mereka bertanya kepada engkau tentang roh, jawablah soal roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit.” (Al Israa': 85).
Tegasnya karena ilmu manusia hanya sedikit bila dibandingkan dengan ilmu Allah, maka tidak dapat mengetahui hajejat wujud roh manusia, karena soal roh termasuk urusan Allah, hanya Allah sendiri yang Maha Mengetahui, sebab Allahlah yang menciptakan roh manusia itu.
Dalam Al Qur'an disebutkan pula:
Yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu bilakah datangnya kiamat itu, katakanlah sesungguhnya pengertian tentang itu di tangan Tuhanku, tidak ada orang yang dapat menerangkan waktunya kecuali Ia sendiri.” (Al A'rarf: 187).
Seandainya ada orang yang meramalkan hari kiamat menurut hari ketentuan ia sendiri, adalah sebenarnya suatu ramalan yang kosong, tidak ada Nashnya dalam Al Qur'an maupun Hadits Nabi SAW. Jadi biar ramalan itu untuk beliau sendiri saja, dan kita tidak perlu terpengaruh olehnya.
Dalam Hadits Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjawab pertanyaan malaikat Jibril tentang kapan datangnya hari kiamat, jawab beliau:
Artinya: “Tidaklah yang ditanya tentang hari kiamat itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya (sama-sama tidak mengetahui). (H.R. Muslim).
Begitu juga manusia tidak dapat mengetahui hakekat wujud dzat allah SWT, sebab yang demikian di luar batas kemampuan manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
Yang artinya: “Berfikirlah tentang segala sesuatu dan janganlah kamu memikirkan tentang dzat Allah.” (H.R. Abusy Ayaikh).
Dalam Al Qur'an disebutkan:
Yang artinya: “Dia (Allah) tidak dapat dicapai dengan pengelihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Al An'aam: 103).
Tegasnya ilmu manusia ada batasnya, tidak dapat menjangkau hal-hal yang ghaib apalagi tentang dzat Allah SWT.
2. MA'RIFAT DENGAN JALAN MENGENAL NAMA ALLAH DAN SIFAT-SIFATNYA.
Untuk dapat mengenal atau berma'rifat kepada Allah SWT juga dicapai dengan jalan mengenal nama Allah dan sifat-sifatNya.
Jadi di samping kita berusaha dengan memikir-mikir keadaan alam ciptaan Tuhan dengan isinya untuk dapat meyakini tentang kebesaran, keagungan dan mengetahui nama Allah, maka di samping itu pula kita berusaha pula mengetahui nama Allah dan sifat-sifatNya. Dengan demikian insya Allah akan tertanam iman yang kuat dalam dada, sehingga kepercayaan dan iman kita kepada Allah bukan hanya ikut-ikutan melainkan betul-betul timbul dari kesadaran dan keinsyafan.
Allah Tuhan semesta alam mempunyai nama-nama yang terbaik sesuai dengan sifat-sifat Allah yang Maha Sempurna yang disebut dengan Al Asmaaul Husnaa.
Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur”an:
Yang artinya: “Katakanlah berdoa'alah kamu kepada Allah atau Ar Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu berseru bolehlah karena Dia mempunyai nama-nama yang baik., (Al Asmaaul Husnaa).” (Al Israa': 110).
Maksud ayat diatas menjelaskan bahwa sebagaimana dari kaum musyrikin berkata: mengapa Muhammad melarang kita menyekutukan Tuhan padahal ia memanggil Allah, Ar Rahman dan lain-lainnya. Mereka tidak mengetahui bahwa Allah, Ar Rahman Ar Rahim dan lain-lainnya itu adalah nama-nama yang baik bagi Allah.
Ibnu Jarir dan Ibnu Marduwaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya Beliau berkata:
Yang artinya: “Rasulullah SAW pada suatu hari shalat di Makkah, kemudian berdo'a kepada Allah ta'ala, kemudian mengucapkan dalam do'anya itu: YA ALLAH-YA RAHMAN. Maka berkatalah orang-orang musyrik, coba perhatikanlah nabi” ini (Rasulullah SAW) melarang kita menyeru dua Tuhan padahal ia menyeru dua Tuhan pula kemudian turunlah ayat diatas. (Qulid'ullaaha awaid'ur rahmaan. (Lihat Al Magrahi IV: 107).
Jadi kita berdo'a dengan menyebut Ya Allah atau Ya Rahman ataupun lainnya sama saja, sebab Allah memiliki nama-nama yang terbaik (Al Asmaaul Husnaa). Boleh menyeru dengan salah satu dari Asmaaul husnaa itu, sebab tiada lain yang diseru dan dituju adalah Allah Tuhan Yang Maha Esa. Nama-nama yang menunjukkan sifat-sifat Allah Yang Maha Agung dan Maha Kuasa itulah yang disebut Al Asmaaul Husnaa.

SUMBER:
Judul: Al Asmaa'ul Husnaa
Pengarang: Ustadz Dja'far Amir
Penerbit: Ramadhani
Solo, Cetakan keenam, februari 1994