Rabu, 28 Desember 2011

SINOPSIS KONSEP BELAJAR BEHAVIORISME

2. SINOPSIS KONSEP BELAJAR BEHAVIORISME
a. Ivan Pavlov
1. Teori belajar kondisioning klasik (clasikal conditioning)
Ivan Pavlov melakukian eksperimen terhadap anjing. Pavlov melihat selama pelatihan ada perubahan dalam waktu dan rata-rata keluarnya air liur pada anjing (salivation). Pavlov mengamati, jika daging diletakkan dekat mulut anjing yang lapar, anjing akan mengeluarkan air liur. Hal ini terjadi karena daging telah menyebabkan rangsangan kepada anjing, sehingga secara otomatis ia mengeluarkan air liur. Walaupun tanpa latihan dan dikondisikan sebelumnya, anjing pasti akan mengeluarkan air liur jika dihadapkan pada daging. Dalam percobaan ini, daging disebut dengan stimulus yang tidak terkondisikan (unconditioned stimulus). Dan karena slavia terjadi secara otomatis pada saat daging di dekat anjing tanpa latihan atau pengondisian, maka keluarnya slavia pada anjing tersebut dinamakan sebagai yang tidak dikondisikan (unresponse conditioning).
Kalau daging dapat menimbulkan slavia pada anjing tanpa latihan atau pengalaman sebelumnya, maka stimulus yang lain, seperti bel, tidak dapat menghasilkan slavia. Karena stimulus tersebut tidak menghasilkan respons, maka stimulus (bel) tersebut disebut dengan stimulus netral (neutral stimulus). Menurut eksperimen Pavlov, jika stimulus netral (bel) dipasangkan dengan daging (unconditioning stimulus) dan dilakukan secara berulang-ulang, maka stimulus netral akan berubah menjadi stimulus yang terkondisikan (condisioning stimulus) dan memiliki kekuatan yang sama untuk mengarahkan respons anjing seperti ketika ia melihat daging. Oleh karena itu, bunyi belsendiri akan dapat menyebabkan anjing mengeluarkan air liur (slavia). Proses ini dinamakan clasical conditioning.
2. hukum-hukum kondisional klasik
Dari Hasil eksperimen dengan menggunakan anjing tersebut, Pavlov akhirnya menemukan beberapa hukum pengondisian, yaitu pemerolehan (acquistion), pemadaman (extintion), generalisasi (generalization), diskriminasi (discrimination), dan kondisioning tandingan (Davidoff, 1981).
b. Edward Lee Thorndike
Eksperimen Pavlov telah memberikan inspirasi bagi para peneliti di Amerika seperti Thorndike. Thorndike adalah psikologi Amerika yang pertama kali mengadakan eksperimen hubungan S-R dengan hewan kucing melalui prosedur dan aparatus yang sistematis (Fudyartanto, 2002). Eksperimennya yaitu:
a. Kucing yang lapar dimasukkan dalam kotak kerangkeng (puzzle box) yang dilengkapi dengan alat pembuka bila disentuh;
b. Di luar kotak ditaruh daging, Kucing dalam kerangkeng bergerak kesana kemari mencari jalan untuk ke luar, tetapi gagal. Kucing terus melakukan usaha dan gagal, keadaan ini berlangsung terus;
c Pada suatu ketika kucing tanpa sengaja menekan sebuah tombol sehingga tanpa disengaja pintu kotak kerangkeng terbuka dan kucing dapat memakan daging di depannya.
Percobaan Thorndike tersebut diulang-ulang, dan pola gerakan kucing sama saja namun makin lama kucing dapat membuka pintu. Gerakan usahanya makin sedikit dan efisien. Thorndike menyatakan bahwa perilaku belajar manusia ditentukan oleh stimulus yang ada di lingkungan sehingga menimbulkan respons secara refleks. Stimulus yang terjadi setelah sebuah perilaku terjadi akan memengaruhi perilaku selanjutnya. Dari eksperimen ini, Thorndike telah mengembangkan hukum law effeck. Hukum law effeck menyatakan bahwa jika sebuah tindakan diikuti oleh perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, maka kemungkinan tindakan itu akan diulang kembali akan semakin meninggkat. Sebaliknya, jika sebuah tindakan diikuti oleh perubahan yang tidak memuaskan, maka tindakan itu mungkin menurun atau tidak dilakukan sama sekali.
c. Burrhus Federic Skinner
1. Teori belajar Skinner
Skinner memulai penemuan teori belajarnya dengan kepercayaan bahwa prinsip-prinsip kondisioning klasik hanya sebagian kecil dari perilaku yang bisa dipelajari. Banyak perilaku manusia adalah operan, bukan responden. Kondisioning klasik hanya menjelaskan bagaimana perilaku yang ada dipasangkan dengan rangsangan atau stimuli baru, tetapi tidak menjelaskan bagaimana perilaku operan baru dicapai. Pada dasarnya, Skinner mendevinisikan belajar sebagai proses perubahan perilaku (Gredler, 1986). Perubahan perilaku yang dicapai sebagai hasil belajar tersebut melalui proses penguatan perilaku baru yang muncul, yang biasanya disebut dengan kondisioning operan (operant conditioning).
Dalam salah satu eksperimennya, Skinner menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang disebut dengan Skinner Box. Kotak Skinner ini berisi dua macam komponen pokok, yaitu manipuldum dan alat pemberi rainforcement yang antara lain berupa wadah makanan. Manipuldum adalah komponen yang dapat dimanipulasi dan gerakannya berhubungan dengan reinforcemen. Komponen ini terdiri dari tombol, batang jeruji, dan pengungkit.
Dalam eksperimen tadi mula-mula tikus itu mengeksplorasi peti sangkar dengan cara larikesana kemari, mencium benda-benda yang ada disekitarnya, mencakar dinding, dan sebagainya. Tingkah laku tikus yang demikian disebut dengan “emmited behavior” (tingkah laku yang terpancar), yakni tingkah laku yang terpancer dari organisme tanpa memedulikan stimulus tertentu. Kemudian salah satu tingkah laku tikus (seperti cakaran kaki, sentuhan moncong) dapat menekan pengungkit. Tekanan pengungkit ini mengakibatkan munculnya butir-butir makanan ke dalam wadahnya.
Butir-butir makanan yang muncul merupakan reinforcer bagi tikus yang telah menekan pengungkit. Penekanan pengungkit inilah yang disebu dengan tingkah laku operant yang akan terus meningkat apabila diiringi rienforcement, yaitu penguatan berupa butir-butiran makanan ke wadah makanan. Kalau diamati, ternyata eksperiment Skinner sama dengan eksperiment yang dilakukan oleh Thorndike. Bedanya makanan (reinforcer) pada thorndike ditunjukkan terlebih dahulu, sedangkan pada Skinnr reinforcer ditunjukkan setelah sebuah tingkah laku terjadi.
2. Prinsip-prinsip belajar menurut Skinner
Hasil eksperimen yang dilakukan oleh Skinner menghasilkan beberapa prinsip-prinsip belajar yang menghasilkan perubahan perilaku (Slavin, 1994), yaitu: Reinforcement (frekuensi tingkah laku), Punishment (menghadirkan atau menberikan sebuah situasi tidak menyenangkan atau situasi yang ingin dihindari untuk menurunkan tingkah laku), Shaping (menggunakan langkah-langkah kecil yang disetai dengan feedback untuk membantu siswa mencapai tujuan yang ingin dicapai), Extinction (mengurangi atau menurunkan tingkah laku dengan menarik reinforcement yang menyebabkan perilaku tersebut terjadi), Antesenden dan perubahan perilaku.
d. Edwin R Gutrie
1. Teori belajar menurut Gutrie B
Teori ini menyatakan bahwa apa yang sesungguhnya dipelajari oleh orang, seperti seorang siswa belajar, adalah reaksi atau respons terakhir yang muncul atas sebuah rangsangan atau stimulus. Artinya, setiap peristiwa belajar hanya mungkin terjadi sekali saja untuk selamanya atau tidak sama sekali terjadi (Reber, 1989; Syah, 2003). Menurut Guthrie, peningkatan hasil belajar secara berangsur-angsur yang dicapai oleh siswa bukan hasil dari berbagai respons kompleks terhadap stimulus-stimulus sebagaimana yang diyakini para behavioris lainnya, melainkan karena kedekatan asosiasi antara stimulus dan respons.
2. Memutus kebiasaan
Untuk menghentikan kebiasaan yang inapropirate (tidak sesuai), maka kebiasaan itu perlu diputus. Untuk itu, perlu pula memutus hubungan antara asosiasi dengan 'cues' yang memunculkan stimuli (rangsangan) dan respons. Ada tiga metode yang ditawarkan oleh Guthrie untuk memutuskan kebiasaan yaitu, metode ambang pintu (threshold methode), metode yang kaku (fatigue methode), dan methode respons tandingan (incompatable respons methode).
3. Punishment (hukuman)
Berbeda dengan reinforcemen yang tidak terlalu berperan dalam proses belajar, hukuman (punishment) mempunyai pengaruh penting mengubah perilaku seseorang. Punishment jika diberikan secara tepat dalam menghadirkan sebuah stimulus yang memunculkan sebuah perilaku inapropiriate, dapat menyebabkan subyak melakukan sesuatu yang berbeda.
4. Eksperimen Guthrie
Salah satu eksperimen yang dilakukan oleh Guthrie untuk mendukung teori kontiguitas adalah percobaannya dengan kucing yang dimasukkan ke dalam kotak puzel. Kemudian kucing tersebut berusaha keluar. Kotak dilengkapi dengan alat yang bila disentuh dapat membuka kotak puzel tersebut. Selain itu, kotak tersebut juga dilengkapi alat yang dapat merekam gerakan-gerakan kucing di dalam kotak. Alat tersebut menunjukkan bahwa kucing telah belajar mengulang-ulang gerakan sama yang diasosiasikan dengan gerakan-gerakan sebelimya ketika dia dapat keluar dari kotak tersebut. Dari hasil eksperimen tersebut, muncul beberapa prinsip dalam teori kontiguitas, yaitu:
1. Agar terjadi pembiasaan, maka organisma harus selalu merespons atau melakukan sesuatu;
2. Pada saat belajar melibatkan pembiasaan terhadap gerakan-gerakan tertentu, oleh karena itu instruksi yang diberikan harus spesifik.
3. Keterbukaan terhadap bergai bentuk stimulus yang ada merupakan keinginan untuk menghasilkan respons secara umum;
4. Respons terakhir dalam belajar harus benar ketika itu menjadi sesuatu yang akan diasosiasikan;
5. Asosiasi akan menjadi lebih kuat karena ada pengulangan.
e. Clark Hull
Hull telah mengembangkan sebuah teori dalam versi behaviorisme. Ia menyatakan bahwa stimulus (S) memengaruhi organisme (O) dan menghasilkan respons ® itu tergantung pada karakteristik O dan S. Dengan kata lain, Hull telah berminat terhadap studi yang mempelajari variabel intervening yang memengaruhi perilaku seperti dorongan atau keinginan, insentif, penghalang , dan kebiasaan. Teori Hull ini disebut dengan teori mengurangi dorongan (drive reduction theory). Seperti teori-teori behavior yang lain, dalam hal ini, reinforcement merupakan faktor utama yang mementukan belajar. Bedanya, dalam Drive Reduction Theory ini, pemenuhan dorongan atau kebutuhan lebih dikurangi dan mempunyai peran yang sangat penting dalam perilaku daripada dalam teori-teori belajar behaviorisme yang lain.
Secara teoritis, kerangka teori Hull berisi postulat postulat yang dinyatakan dalam bentuk matematik: 1) organisme memiliki sebuah hierarki kebutuhan yang muncul karena adanya stimulation atau dorongan; 2) kebiasaan yang kuat meningkatkan aktivitas yang diasosiasikan dengan reinfircement primer maupun sekunder; 3) stimulus diasosiasikan dengan penghentian sebuah respons menjadi penghalang yang dikondisikan; dan, 4) lebih efektif reaksi potensi melampui reaksi minimal, lebih pendek terjadinya penundaan respons (Latency respons). Berdasarkan postulat tersebut, Hull menyatakan berbagai macam tipe variabel seperti generalisasi, motivasi, dan variabilitas dalam belajar.
Salah satu konsep yang paling penting dalam teori Hull adalah hierarki kebiasaan yang kuat bagi sebuah stimulus yang diberikan, sebuah organima akan dapat merespons dengan sejumlah cara. Seperti sebuah respons yang spesifik mempunyai sebuah kemungkinan dapat diubah oleh hadiah dan dipengaruhi oleh berbagai macam variabel lain (seperti halangan). Dalam beberapa bacaan tentang teori hull ini, hierarki kebiasaan yang kuat menyerupai komponen-komponen teori kognitif.
Drive Reduction Theory ini memiliki beberapa prinsip, yaitu (1) dorongan merupakan hal yang penting agar terjadi respons (siswa harus memiliki keinginan untuk belajar), (2) stimulus dan respons harus dapat diketahui oleh organisme agar pembiasaan dapat terjadi (siswa harus mempunyai perhatian ), (3) respons harus dibuat agar terjadi pembiasaan (siswa harus aktif), dan (4) pembiasaan hanya akan terjadi jika reinforcemen dapat memenuhi kebutuhan (belajar harus dapat memenuhi keinginan siswa).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar