Senin, 04 Maret 2013

Makrifat Tentang Asma-ul Husna

Makrifat Tentang Asma-ul Husna
Sesungguhnya pengetahuan tentang Allah serta nama-nama dan sifat-sifat -Nya adalah semulia-mulianya ilmu. Dia adalah ilmu yang diwajibkan karena dzatnya, dan yang menjadi tujuan karena dzatnya, kalam allah
Artinya: “Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Ath-Thalaaq: 12).
Dalam ayat ini, Allah menjelaskaqn bahwa Dia telah menciptakan langit dan bumi, dan Dia menurunkan segala urusan antara langit dan bumi agar hamba_nya tahu, bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dengan demikian, ilmu tentang Tuhan Adalah yang paling dituntut dari makhluk_nya. Sebagaimana Kalam Allah:
Artinya: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah.” (Muhammad: 19).
Maka ilmu tentang keesaan Allah dan bahwa tiada tuhan selain Allah adalah suatu yang dituntut karena dzatnya dari setiap manusia, tetapi bukan hanya sekedar diketahui saja, namun harus dibarengi dengan beribadah kepada-Nya, Tuhan yang tiada sekutu bagi-Nya. Pertama, mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifatnya, juga dengan perbuatan-perbuatan dan hukum-hukum-Nya. Kedua beribadah kepada-Nya dengan segala tuntutan dan konsekuensinya.
Bukti-Bukti dan Dalil-dalil (Syawahid) Sifat dari Al-qur'an dan Sunnah
Bukti-bukti dan dalil-dalil sifat adalah sesuatu yang bisa menjadi bukti dan yang menjadi dalil, baik dari Al-Qur'an maupun sunnah, atau bukti-bukti akal dan fitrah serta bukti-bukti dari adanya penciptaan semesta. Maka, tatkala seseorang mampu mengokohkan dirinya dalam tauhid, dia akan mengetahui, bahwa Allah sendirilah yang mengajarkan sifat-sifat-Nya. Dan seorang hamba tidak akan mengenal Allah dengan kemampuan dirinya sendiri, dia tidak akan mampu menegenal-Nya adaikan Allah tidak mengenalkan diri-Nya kepadanya melalui pengetahuan yang Allah tanamkan ke dalam kalbunya dengan bukti-bukti dan dalil-dalil, kemudian beralih dari bukti-bukti dan dalil-dalil tersebut kepada bukti alam yang tampak dengan nyata. Sebab seluruhnya Allah-lah yang membuktikan diri-Nya oleh diri-Nya sendiri. Sebab seluruh bukti-bukti itu sebenarnya berasal dari-Nya. Da telah mempersaksikan diri-Nya dengan apa yang Dia katakan, Dia perbuat dan Dia ciptakan, agar dengan bukti-bukti itu para hamba mengenal-Nya. Dia adalah Tuhan Ynag Maha Awal da Maha Akhir, sedangkan hamba hanyalah objek semata, ia adalah tempat dan ruang beredarnya bukti-bukti, atsar (dampak yang ditimbulkan) dan hukum-hukum-Nya, dia sama sekali tidak memiliki peran apa-apa. Inilah yang disebut dengan “pengiriman” (Irsaal) sifat-sifat pada bukti-bukti tersebut. Dengan demikian, amaka menetapkan hukum itu kepada sifat, bukan kepada bukti-bukti karena bukti-bukti itu adalah sebagai atsar (bekas) dan jejak dari adanya sifat-sifat. Ini menurut satu pandangan.
Dan berdoa dengan Asma-ul Husna itu meliputi doa permintaan, yang memancar dan tajalliya (penampakan) sifat yang tampak pada bukti.
Jika sifat itu dikirimkan pada bukti-bukti, maka saat itu lenyaplah sinar tajalliyat (penampakan) pada sifat-sifat tadi, dan hukum yang ada adalah untuk sifat. Maka pada saat itulah seorang hamba telah mendaki kepada syud Dzat (penyaksian Dzat) dengan pandangan yang ilmiah dan irfaniyah.
Ilmu Tentang Allah, Nama-nama dan Sifat-Nya adalah Ilmu yang Palinh Mulia.
Sesungguhnya mulianya sebuah ilmu itu sangat tergantung kepada kemuliaan yang ingin diketahui dari ilmu tersebut; adanya keyakinan jiwa akan dalil-dalil dan keterangan atas wujud dan besarnya manfaat yang akan diperolehnya. Maka tak dapat diragukan lagi bahwa hal yang paling agung untuk diketahui adalah allah, yang tiada tuhan selain-Nya, Tuhan semesta Alam, Yang Mendirikan langit dan membentangkan bumi, Raja Yang Haq, yang memiliki sifat-sifat yang mulia, yang terhindar dari sifat-sifat tercela. Dia sama sekali tidak serupa dengan apa pun dalam kesempurnaan-Nya.
Dan sekali lagi, ilmu tentang allah, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya adalah sebaik-baiknya ilmu. Sedangkan posisi ilmu ini jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain adalah bagaikan kedudukan Allah di antara semua makhluk-Nya. Dan ilmu ini paling mulia karena ia merupakan sumber segala ilmu. Sebagaimana segala wujud, dalam wujudnya dan untuk mengeksiskan dirinya sangat tergantung kepada Raja-Diraja Yang Maha Haq. Dengan demikian, pengetahuan tentang Allah adalah asal dari segala ilmu. Sebagaimana allah adalah Tuhan segala sesuatu, Pemikirannya dan Penciptaanya.
Tidak diragukan pula, bahwa kesempurnaan sebuah ilmua dalah karena kesempurnaannya, dan sebagi sebab yang menghajatkan kepada akibat. Sebagimana pengetahuan tentang sebuah alasan yang sempurna, mengahuskan untuk mengetahui objek alasan, Dan semua yang ada selain Allah sangatlah tergantung kepada Allah dalam wujudnya, sebagaimana yang diciptakan membutuhkan pencipta, dan objek membutuhkan subjeknya. Maka ilmu tentang Dzat Allah, sifat dan perbuatan (af'al)-Nya mengharuskan untuk mengetahui yang selain-Nya. Karena Allah dalam Dzat-Nya adalah Tuhan segala sesuatu dan Pemiliknya. Dan ilmu tentang-Nya adalah alasan segala ilmu. Maka barangsiapa yang mengetahui Allah, dia akan mengetahui yang selain Allah. Dan barangsiapa yang tidak mengetahui Tuhannya, maka dia akan lebih tidak mengetahui yang lain-Nya. Kalam Allah:
Artinya: “Dan janganlah kamu sekalian menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (al-hasyr: 19).
Perhatikan ayat di atas, niscaya akan didapatkan sebuah makna yang mulia dan agung. Yakni barangsiapa yang lupa kepada Tuhannya, maka Allah akan menjadikan dia lupa kepada dirinya sendiri. Maka, dia tidak akan mengetahui apa yang baik bagi dirinya untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat. Dia akan menjadi makhluk yang sia-sia, bagaikan binatang-binatang padahal binatang bisa saja jadi lebih mengetahui apa yang maslahat untuk dirinya bila dibandingkan dengan orang tersebut. Karena binatang tetap teguh dengan karunia yang diberikan oleh-Nya. Adapun orang yang lupa kepada Allah, dia telah keluar dari fitrahnya. Dia lupa kepada Tuhannya, hingga Allah pun menjadikannya lupa kepada dirinya sendiri dan sifat-sifat dirinya, dan dia pun lupa kepada yang memungkinkannya untuk bisa hidup lengkap, mampu membersihkan diri dan bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Jika seseorang hamba tahu, bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Tunggal, tunggal dalam keazalian, kekekalan dan perbuatan-Nya, dan dia pun menyadari akan ketidak mampuan mkhluk untuk mencipta walau hanya setitik atom, atau bahkan lebih kecil daripada itu. Dan dia pun tahu, bahwa dia tidak memiliki dirinya sendiri, dan bahwa wujud dirinya adalah bukan miliknya, bukan olehnya dan bukan pula darinya. Maka pengetahuan tentang Allah akan mantap dalam kalbunya. Dengan demikian, maka akan terhapuslah dalam kalbunya kerinduan kepada selain-Nya. Sebagaimana juga akan lenyap dalam hatinya perasaan merasa kaya, merasa kuasa untuk mengatur, merasa memiliki dan merasa kuasa. Maka jadilah Allah sebagai Dzat yang disembah dan yang selalu diingat. Allah adalah Dzat Yang Maha Pencipta, Maha Diraja. Dialah Dzat yang ada dengan sendiri-Nya sejak awal dan azali. Adapun yang selainnya, wujud dan apa yang terwujud karenanya, dia tidak memiliki peran apa-apa. Jadi, semakin sirna ingatannya karenanya, dia tidak memiliki peran apa-apa. Jadi, semakin sirna ingatannya kepada yang lain, maka akan semakin bersih pula makrifatnya kepada Allah.
Orang yang makrifat kepada Allah akan mengakui, bahwa dirinya tidak akan mampu untuk mencangkup seluruh pujian untuk ia sampaikan kepada-Nya. Dan sesungguhnya Dia jauh di atas segala pujian yang dipanjatkan oleh para pemuji-Nya. Sebagaimana dikatakan dalam sebauh syair:
Tak akan sampai orang yang memuja-Mu
sebab yang ada dalam diri-Mu terlalu agung
Semua puja hanya milik-Mu tak ada awal
tak ada akhir, Allah lebih mengetahui bagaimana caranya memuji-Nya.
Iman dengan Sifat Yang Tinggi Adalah Asas Islam
Pijakan seorang hamba tidak akan kokoh dalam makrifat-bahkan dalam iman sekalipun-hingga dia beriman kepada sifat-sifatnya Allah yang Maha Mulia, dan mengenalnya dengan makrifat yang mengeluarkannya dari kebodohan terhadap Tuhannya. Iman kepada sifat Allah dan mengetahuinya secara benar adalah asas Islam, pondasi iman dan buahnya ihsan. Maka barangsiapa yang mengingkari sifat-sifat Allah berarti dia telah mengahancurkan asas Islam, pondasi iman dan buahnya ihsan. Dan mustahil untuk menjadi seorang ahli irfan (ahli makrifat).
Allah telah menganggap orang yang mengingkari sifat-sifat-Nya sebagai orang yang terburuk sangka kepada-Nya. Dan Allah mengancamnya dengan ancaman yang lenih besar daripada ancaman kepada orang yang musyrik, orang-orang kafir dan orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar. Kalam Allah:
Artinya: “Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, pengelihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangsikan terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadikanlah kamu termasuk orang-orang yang merugi. “ (Fushshilat: 22-23).
Allah memberitahukan bahwa keingkaran mereka atas sifat-sifat allah itu berasal dari buruk sangka mereka terhadap Allah. Allah memberitahukan bahwa Dialah yang akan menghancurkan mereka. Allah berfirman tentang orang-orang yang berburuk sangka kepada-Nya sebagi berikut:
Artinya: “Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah sejahat-jahatnya tempat kembali.” (al-Fath: 6).
Ancaman seperti ini tidak pernah Allah lontarkan, kecuali kepada mereka yang buruk sangka kepada Allah dan mengingkari sifat-sifat-Nya. Dan pengingkaran akan hakikat nama-nama-Nya adalah buruk sangka yang paling besar.
Pujian, dalam segala bentuk, adalah hal yang paling disenangi Allah dan memuja dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya adalah perkara yang paling dicintai-Nya, maka pengingkaran atas semua itu adalah salah satu bentuk kekufuran yang snagat besar terhadap-Nya dan lebih jahat dari pada syirik. Orang yang menafikan sifat Allah (al-mu'aththil) lebih jahat dari orang musyrik. Sebab, kufur kepada sifat-sifat Sang Raja dan hakikat kerajaan-Nya serta mencela sifat-sifat-Nya adalah tidak sama dengan orang yang menyekutukan-Nya dengan yang lain dalam hal kekuasaan-Nya. Orang-orang yang menafikan sifat Allah adalah musuh para Rasul. Dan ketahuilah, bahwa asal kemusyrikan di dunia ini awalnya bersumber dari tha'thil (penafian sifat Allah).
Sumber:
Judul asli: Asma-ul Husna
Pengarang: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Pentahkik: Yusuf Ali Budaiwi dan Amin Abdul-Rozak Syawwa
Penerbit: Dar Al-Kalim Ath-Thayyib, Beirut, 1998.

Judul Indonesia: Asma ul-Husna Nama-nama Indah Allah
Penerjemah: Samson Rahman
Cetakan: Pertama, september 2000
Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta timur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar