Jumat, 01 Maret 2013

QONA'AH

QONA'AH
A. Pengertian Qona'ah
Qona'ah Artinya rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta jauh dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebih. Qona'ah tidak berarti hidup bermalas-malasan, tidak berusaha dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Justru orang yang mempunyai sifat qona'ah itu lebih giat bekerja dan berusaha, namun apabila tidak sesuai dengan apa yang diharapkan ia akan tetap rela hati menerima hasil tersebut dengan rasa syukur kepada Allah SWT dan tidak putus asa. Sikap demikian itu yang akan mendatangkan rasa tentram dan tenang dalam hidup dan menjauhkan diri dari sifat serakah dan tamak. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
Artinya: “Dari Abdullah bin Amru berkata, bersabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya beruntung orang yang masuk Islam dan rizqinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya”. (HR. Muslim).
B. Qona'ah Dalam Kehidupan
Setiap muslim seharusnya menpunyai sifat qana'ah, karena sifat tersebut dapat menjadi pengendali agar tidak surut dalam keputusasaan dan tidak terlalu serakah. Qana'ah berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator hidup seorang muslim. Dikatakan stabilisator karena seseorang muslim yang mempunyai sifat qana'ah akan selalu berlapang dada, berhatitentram, nerasa kaya dan berkecukupan, bebas dari keserakahan, karena pada hakekatnya kekayaan atau kemiskinan terletak pada hati bukan pada harta yang dimilikinya. Bila kita perhatikan banyak orang yang lahirnya nampak berkecukupan bahkan hidup mewah, namun hatinya penuh diliputi keserakahan dan kesengsaraan. Tetapi sebaliknya banyak orang yang sepintas lalu seperti kekurangan, namun hidupnya tenang penuh kegembiraan, bahkan masih sanggup mengeluarkan sebagian hartanya untuk kepentingan sosial. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dalam suatu haditsnya
Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. Bersabda Nabi SAW: “Bukankah kekayaan itu karena faktor banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Orang yang mempunyai sifat Qona'ah hatinya senantiasa merasa kecukupan, terhindar dari sifat loba dan tamak, yang cirinya antara lain suka meminta-minta kepada sesama manusia karena msaih merasa kurang puas dengan yang diberikan Allah kepadanya. Disamping itu Qana'ah juga berfungsi sebagai dinamisator, yaitu kekuatan batin yang selalu mendorong seseorang untukk meraih kemajuan hidup berdasarkan kemandirian dengan tetap bergantung kepada karunia Allah.
Nabi Muhammad SAW telah memberikan nasihat kepada Hakim bin Hizam mengenai qana'ah ini sebagaimana terungkap dalam sabdanya:
Artinya: “Dari Hakim bin Hizam r.a. Ia berkata: saya pernah meminta kepada Rasulullah SAW dan beliaupun memberi kepadaku. Lalu saya meminta lagi kepadanya dan beliaupun tetap memberi. Kemudian beliau bersabda: “Hai Hakim! Harta ini memang indah dan manis, maka siapa yang mengambilnya dengan hati yang lapang pasti diberi berkat baginya. Sebaliknya siapa yang mengambilnya dengan hati yang rakus pasti tidak berkat baginya, bagaikan orang makan yang tak kunjung kenyang. Dan tangan yang diatas lebih baik dari tangan di bawah”. Berkata Hakim: “Ya Rasulullah! Demi Allah yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak menerima apapun sepeninggal engkau sampai saya meninggal dunia”. Kemudian Abu Bakar r.a. (sebagai khalifah) memanggil Hakim untuk memberinya belanja (dari baitul amal) tetapi ia menolaknya dan tidak mau menerima sedikitpun pemberian iti. Kemudian Abu Bakar berkata: “Wahai kaum muslimin! Saya persaksikan kepada kalian tentang Hakim bahwa saya telah memberikan haknya yang diberikan Allah padanya”. (HR. Bukhori dan Muslim).
Orang yang mempunyai sifat qana'ah tidak memerlukan lebih dari apa yang ia terima. Ia tahu bahwa apa yang diterimanya itu merupakan harta yang diberikan Allah atas hasil usahanya. Karena itu ia tetap berusaha yabg diberikan terus dan tidak merasa iri terhadap orang lain. Ia merasa senang dan bahagia dengan apa yang ada.
Orang yang mempunyai sifat qana'ah ciri-cirinya sebagai berikut:
1. Menerima dengan rela apa yang ada
2. Memohon kepada Allah rizqi yang pantas sambil terus berusaha dan tidak putus asa
3 Menerima dengan sabar dan ikhlas
4. Bertawakal kepada Allah SWT.
5. Tidak tertarik oleh tipu daya syetan dan tidak mudah tergoda oleh cara-cara yang kurang baik dalam mencari rizqi.
Menumbuhkan sifat Qana'ah diperlukan kesabaran dan latihan. Pada awalnya mungkin sesuatu yang memberatkan hati, tetapi jika Qana'ah itu sudah membudaya dalam diri dan telah menjadi bagian dalam hidupnya, maka kebahagiaan di dunia dan akhirat akan tercapai. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
Artinya: “Qana'ah itu adalah simpanan yang tak akan pernah lenyap”. (HR. Thabrani).
Atinya: “Qana'ah itu harta yang tak bisa hilang dan simpanan yang tak akan lenyap” .(HR. Thabrani dan Jabir).
Qana'ah itu amat penting sekali apabila dimiliki oleh setiap orang dan ditetapkan dalam kehidupan sehari-hari akan mendorong terwujudnya masyarakat yang penuh ketentraman, tidak cepat putus asa dan bebas dari kesalahan, selalu berfikir positif dan maju.
Qana'ah mengandung unsur pokok yang dapat membangun pribadi muslim yaitu menerima dengan rela apa adanya, memohon tambahan yang pantas kepada Allah disertai usaha dan ikhtiar menerima ketentuan Allah dengan sabar dan tawakal serta terperangkap oleh tipu daya (dunia).

Sumber: Drs. Marsahid. Dkk. 2007. Al Islam dan Kemuhammadiyahan Semester Gasal Kelas XI. Surakarta: Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar