Kamis, 07 Maret 2013

Ma'rifat Kepada Allah

Ma'rifat Kepada Allah.
Ma'rifat kepada Allah atau mengenal Allah tentang dzat dan sifat-sifat-Nya adalah menjadi kewajiban tiap mslimin dan muslimat dimana pun mereka berada.
Sebab dengan ma'rifat kepada Allah itu akan bersemilah iman yang ada dalam dada sedangkan iman kepada Allah itu menjadi sendi keyakinan dan kepercayaan yang terpokok dalam Islam. Karenanya sungguh beruntung orang yang beriman kepada Allah itu.
Bilamana seseorang telah tertanam dalam dadanya iman kepada Allah, meyakinkan tentang adanya Allah, meyakinkan bahwa Allah dzat Yang Maha sempurna dalam segala-galanya dan dijauhkan dari segala sifat kekurangan, niscaya akan bersemi pula beriman kepada alam gaib yakni malaikat, jin, ruh dan sebagainya.
Dan iman kepada Allah itu akan menumbuhkan pula iman kepada kitab-kitab Allah yakni kitab suci yang diturunkan kepada para Rasul. Dan tumbuh pula kepercayaan dan iman kepada para Rasul sebagai utusan Allah.
Yang demikian akan menumbuhkan pula iman kepada adanya alam akhirat, hari kebangkitan manusia di alam akhirat atau hari Ba'ats, iman pula akan adanya hisap atau perhitungan amal manusia, pahala, siksa, surga dan neraka. Dan akan beriman pula tentang adanya takdir Tuhan SWT. Begitulah buahnya ma'rifat kepada Allah yang betul-betul bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia di dunia ini, sebagai hamba Allah
Awwalu waajibin 'alal insaanii- Ma'rifatul ilaahi bistiqaanii.
Yang artinya:
Permulaan yang wajib bagi manusia- Mengenal Tuhan (Allah) dengan penuh keyakinan.”
Jalannya ma'rifat kepada Allah itu ada dua:
1. Dengan jalan menggunakan akal untuk memikir-mikir keindahah ciptaan Allah.
2. Dengan jalan mengenal nama Allah dan sifat-sifat-Nya.
Kedua jalan itu harus kita tempuh kedua-duanya agar iman yang ada dalam dada bertambah kuat dan tebal, menghujam dalam kalbu.
1. MA'RIFAT DENGAN JALAN MENGGUNAKAN AKAL.
Anugerah Allah yang diberikan kepada manusia yang tak ternilai harganya ialah berupa akal. Dengan akal fikiran manusia dapat mencapai kemajuan sehingga dewasa ini manusia dengan akal dapat menginjakkan kakinya ke bulan, dapat melayang-layang di udara berjam-jam lamanya. Itulah kaluau akal fikiran manusia digunakan dengan sebaik-baiknya.
Dengan menggunakan akal itu pula manusia dapat mencapai kesempurnaan hidup melabihi dari makhluk-makhluk yang lain. Dapat mendirikan gedung yang indah, mendirikan pabrik yang beraneka ragam, mendapatkan hasil tanaman dan lain sebagainya yang bermanfaat bagi hidup, yang semuanya itu tercapai berkat dari ketekunan manusia menggunakan akalnya.
Maka dalam ma'rifat kepada Allah perlu pula manusia menggunakan akal, ialah dengan jalan memikir-mikir keindahan ciptaan allah.
Bagaimana Allah menciptakan matahari benda raksasa yang membara dapat bergerak di angkasa. Memikir-mikir terjadinya binatang yang beraneka warna, ada yang buas seperti harimau ada yang bergading dan berbelalai panjang ialah gajah, memikir-mikir pula tentang keadaan ikan yang bermacam-macam bentuk dan warnanya, indah sekali, semuanya itu bukan manusia yang menciptakan dan membuatnya melainkan Allah SWT.
AYAT-AYAT DAN HADIS NABI YANG MEMRINTAHKAN MANUSIA MENGGUNAKAN AKALNYA.
Banyak ayat-ayat al Qur'an dan Hadits Nabi SAW yang memerintahkan agar manusia menggunakan akalnya. Memikir-mikir tentang hal keduniaan dan keakhiratan. Diantaranya ialah ayat:
Yang artinya: Yang demikian itu Allah menerangkan ayat-ayatnya agar kamu memikir-mikir, hal keadaan dunia dan akhirat.” (Al Baqarah: 219-220).
Di ayat lain disebutkan pula:
Artinya: “Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi, karena tidak berguna tanda-tanda kekuasaan Allah dan peringatan-peringatan bagi kaum yang tidak beriman.” (Yunus: 101).
Disebutkan pula:
Artinya: “Perhatikanlah buahnya ketika pohon itu berbuah. Dan sesungguhnya di dalam yang demikian itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman.” (al an'aam: 99).
Yang dimaksud perhatikanlah dalam ayat di atas ialah fikirkanlah.
Adapun maksud ayat tersebut: Cobalah perhatikan dengan hati yang jernih, bagaimana sebuah pohon dapat berbuah, semua buah itu kecil dan akhirnya besar dan masak. Keadaan buah itu brbeda rasanya dan warnanya ketika masuh kecil dan ketika telah masak. Bukan manusia yang membuatnya demikian, melainkan allah pencipta semesta alam. Yang demikian menjadi bukti kekuasaan Allah SWT Yang Tak Terbatas.
Cobalah perhatikan bumi, bulan bintang dan matahari berjalan dengan :nidham” peraturan alam dengan tata tertib yang rapi, semuanya berjalan dan beredar di tempatnya sendiri-sendir dengan aman. Tidak berbenturan satu dengan yang lain, sehingga terjadi pergantian siang dan malam yang teratur, yang demikian menjadu bukti yang menunjukkan adanya kekuatan ghaib di luar yang ada ini maha dasyat, yang menggerakkan alam ini dengan teratur dan berhikmat, termasuk bumi dan manusia yang mendiaminya, terapung-apung di angkasa nan luas dengan aman.
Sedangkan kekuatan Ghaib yang maha dahsyat yang menggerakkan alam ini menurut ajaran Islam ialah datangnya dari allah Yang Maha Agung Yang Maha Sempurna dalam segala-galanyanya serba berhikmat itu.
Jadi Allahlah yang menciptakan dunia dengan segala isinya ini, sebab Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Sempurna, Maha Bijak Sana, Maha Perkasa, yang menciptakan dunia sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya.
Kalau sekiranya perjalanan alam yang seba teratur atas kehendak manusia, tentulah tidak sehebat itu. Sebab manusia adalah makhluk yang lemah. Terbukti kendaraan yang dikemudikan menurut kehendak manusia bisa rusak berantakan. Kita dengar disana-sini ada juga kadang-kadang kapal udara jatuh, kapal karam di tengah laut, mobil bertabrakan dengan mobil atau dengan sepeda motor dan sebagainya. Semuanya itu menunjukkan kekurangan dan kelemahan mnusia.
Padahal kenyataannya keadaan alam serba teratur, tidak tabrakan satu dengan yang lain. Bumi, bulan, bintang berjalan ditempatnya masing-masing tentu Allahlah yang mengaturnya. Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa adanya ini menunjukkan adanya Allh, Tuhan semesta alam.
Disebutkan dalam Al Qur'an:
Yang artinya: “Katakanlah: siapakah Tuhan langit dan bumi, jawablah: Allah. Katakanlah: apakah kamu menjadikan pelindung-pelindung selain Allah sedangkan mereka tidak menguasai kemanfaatan dan kemadlaratan terhadap diri mereka sendiri. Katakanlah apakah sama orang buta dan orang yang dapat melihat apakah sama gelap dengan terang. Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah dapat menciptakan seperti ciptaan seperti ciptaan-Nya. Sehingga kedua ciptaan itu serupa bagi mereka. Katakanlah Allahlah yang menciptakan segala sesuatu, dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (ar Ra'd: 16).
Disebutkan di lain ayat:
Yang artinya: “Sesungguhnya didalam terjadinya langit dan bumi dan pergantian malam dan siang sungguh menjadi bukti kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Ialah orang-orang yang ingat kepada allah di waktu berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka memikir-mikir tentang terjadinya langit dan bumi, kemudian mereka berkata wahai Tuhan kami engkau tidak menjadikan ini hampa sis-sia, Maha Suci Engkau maka jagalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imraan: 190-191).
Adapun Hadits yang memerintahkan agar kita manusia menggunakan akalnya di antaranya ialah sabda Rasulullah SAW:
Yang artinya: “Berfikirlah kamu tentang segala sesuatu dan janganlah kamu berfikir tentang dzat Allah.” (H.R. Abusy Syaikh dari Ibnu abbas).
LAPANGAN PEMIKIRAN.
Akal manusia itu terbatas. Oleh karena itu lapangan pemikiran ada batasnya. Manusia tidak dapat memikirkan sesuatu diluar batas kemampuannya, terutama hal-hal yang gaib, misalnya memikirkan hakekat wujud roh manusia, kapan datangnya hari kiamat, malaikat, jin, dzat Allah dan sebagainya. Sebab ilmu manusia ada batasnya.
Dalam Al Qur'an disebutkan:
Yang artinya: “Dan mereka bertanya kepada engkau tentang roh, jawablah soal roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit.” (Al Israa': 85).
Tegasnya karena ilmu manusia hanya sedikit bila dibandingkan dengan ilmu Allah, maka tidak dapat mengetahui hajejat wujud roh manusia, karena soal roh termasuk urusan Allah, hanya Allah sendiri yang Maha Mengetahui, sebab Allahlah yang menciptakan roh manusia itu.
Dalam Al Qur'an disebutkan pula:
Yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu bilakah datangnya kiamat itu, katakanlah sesungguhnya pengertian tentang itu di tangan Tuhanku, tidak ada orang yang dapat menerangkan waktunya kecuali Ia sendiri.” (Al A'rarf: 187).
Seandainya ada orang yang meramalkan hari kiamat menurut hari ketentuan ia sendiri, adalah sebenarnya suatu ramalan yang kosong, tidak ada Nashnya dalam Al Qur'an maupun Hadits Nabi SAW. Jadi biar ramalan itu untuk beliau sendiri saja, dan kita tidak perlu terpengaruh olehnya.
Dalam Hadits Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjawab pertanyaan malaikat Jibril tentang kapan datangnya hari kiamat, jawab beliau:
Artinya: “Tidaklah yang ditanya tentang hari kiamat itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya (sama-sama tidak mengetahui). (H.R. Muslim).
Begitu juga manusia tidak dapat mengetahui hakekat wujud dzat allah SWT, sebab yang demikian di luar batas kemampuan manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
Yang artinya: “Berfikirlah tentang segala sesuatu dan janganlah kamu memikirkan tentang dzat Allah.” (H.R. Abusy Ayaikh).
Dalam Al Qur'an disebutkan:
Yang artinya: “Dia (Allah) tidak dapat dicapai dengan pengelihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Al An'aam: 103).
Tegasnya ilmu manusia ada batasnya, tidak dapat menjangkau hal-hal yang ghaib apalagi tentang dzat Allah SWT.
2. MA'RIFAT DENGAN JALAN MENGENAL NAMA ALLAH DAN SIFAT-SIFATNYA.
Untuk dapat mengenal atau berma'rifat kepada Allah SWT juga dicapai dengan jalan mengenal nama Allah dan sifat-sifatNya.
Jadi di samping kita berusaha dengan memikir-mikir keadaan alam ciptaan Tuhan dengan isinya untuk dapat meyakini tentang kebesaran, keagungan dan mengetahui nama Allah, maka di samping itu pula kita berusaha pula mengetahui nama Allah dan sifat-sifatNya. Dengan demikian insya Allah akan tertanam iman yang kuat dalam dada, sehingga kepercayaan dan iman kita kepada Allah bukan hanya ikut-ikutan melainkan betul-betul timbul dari kesadaran dan keinsyafan.
Allah Tuhan semesta alam mempunyai nama-nama yang terbaik sesuai dengan sifat-sifat Allah yang Maha Sempurna yang disebut dengan Al Asmaaul Husnaa.
Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur”an:
Yang artinya: “Katakanlah berdoa'alah kamu kepada Allah atau Ar Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu berseru bolehlah karena Dia mempunyai nama-nama yang baik., (Al Asmaaul Husnaa).” (Al Israa': 110).
Maksud ayat diatas menjelaskan bahwa sebagaimana dari kaum musyrikin berkata: mengapa Muhammad melarang kita menyekutukan Tuhan padahal ia memanggil Allah, Ar Rahman dan lain-lainnya. Mereka tidak mengetahui bahwa Allah, Ar Rahman Ar Rahim dan lain-lainnya itu adalah nama-nama yang baik bagi Allah.
Ibnu Jarir dan Ibnu Marduwaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya Beliau berkata:
Yang artinya: “Rasulullah SAW pada suatu hari shalat di Makkah, kemudian berdo'a kepada Allah ta'ala, kemudian mengucapkan dalam do'anya itu: YA ALLAH-YA RAHMAN. Maka berkatalah orang-orang musyrik, coba perhatikanlah nabi” ini (Rasulullah SAW) melarang kita menyeru dua Tuhan padahal ia menyeru dua Tuhan pula kemudian turunlah ayat diatas. (Qulid'ullaaha awaid'ur rahmaan. (Lihat Al Magrahi IV: 107).
Jadi kita berdo'a dengan menyebut Ya Allah atau Ya Rahman ataupun lainnya sama saja, sebab Allah memiliki nama-nama yang terbaik (Al Asmaaul Husnaa). Boleh menyeru dengan salah satu dari Asmaaul husnaa itu, sebab tiada lain yang diseru dan dituju adalah Allah Tuhan Yang Maha Esa. Nama-nama yang menunjukkan sifat-sifat Allah Yang Maha Agung dan Maha Kuasa itulah yang disebut Al Asmaaul Husnaa.

SUMBER:
Judul: Al Asmaa'ul Husnaa
Pengarang: Ustadz Dja'far Amir
Penerbit: Ramadhani
Solo, Cetakan keenam, februari 1994

Tidak ada komentar:

Posting Komentar